Musimqq Bandar Sakong Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Terpercaya Meja13 adalah situs judi online game capsa susun

Sunday, August 19, 2018

Ini yang Bikin Dolar AS Berat Balik ke Rp 13.000

Ini yang Bikin Dolar AS Berat Balik ke Rp 13.000

Kabar Ekonomi - Dolar Amerika Serikat (AS) telah menembus Rp 14.600. Tekanan terhadap Rupiah diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun. Lalu apa penyebabnya?

Menurut Analis dan Direktur Equilibrium Komoditi Berjangka, Ibrahim, krisis mata uang di Turki memang belakangan ini menambah keperkasaan dolar AS hingga membuat rupiah terkapar. Namun kondisi itu bukan menjadi tantangan utama bagi rupiah hingga akhir tahun.

"Sebenarnya krisis di Turki itu kalau pemerintah tidak gegabah tidak apa-apa. Itu seperti orang tersetrum, kaget langsung lompat setelah itu kembali lagi," tuturnya saat dihubungi wartawan, Minggu (19/8/2018).

Menurutnya penyebab utama yang membuat dolar AS terus merangkak naik adalah sentimen perang daganf antara AS dan China. Sebab China kini menjadi salah satu negara pusat perdagangan dunia.

Meskipun untuk menghantam Turki, Presiden AS Donald Trump telah menaikan tarif impor aluminium menjadi 20% dan tarif impor baja akan dinaikkan menjadi 50%. Hal itu lantaran Turki enggan membebaskan pendeta asal AS Andrew Brunso.

"Tapi kalau Eropa atau Turki itu sebenarnya pengaruhnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan China yang cadangan devisanya sangat besar," tambahnya.

Indonesia juga memilik banyak hubungan dagang dengan China. Sehingga jika disana terjadi guncangan getarannya sampa ke RI.

Ibrahim memprediksi nilai tukar Rupiah hingga akhir tahun tidak akan kembali ke zona Rp 13.000-an. Dia menghitung titik keseimbangan dolar AS terhadap rupiah yang baru adalah Rp 14.400.

Sentimennya yang membuat dolar AS sulit dikalahkan selain perang dagang adalah mulai masuknya tahun politik. Hal ini membuat para investor cenderung menahan diri.

"Ingat pilpres dan pemilihan legislatif itu waktu totalnya 7 bulan. Selama 7 bulan itu potensi terjadi gesekan antara pemerintah dan oposisi," terangnya.

No comments:
Write comments